Kendari – Universitas Mandila Waluya, khususnya Fakultas Biologi, tengah menggerakkan roda penelitian inovatif yang diharapkan dapat memberikan solusi konkret bagi permasalahan lingkungan di kawasan Sulawesi Tenggara. Kolaborasi intensif antara dosen pembimbing dan mahasiswa peneliti telah menghasilkan terobosan dalam bidang bioremediasi laut, sebuah teknologi ramah lingkungan yang memanfaatkan organisme hidup untuk membersihkan limbah dan polutan di ekosistem perairan.
Penelitian yang dimulai sejak Januari 2025 ini melibatkan lebih dari 40 mahasiswa dari berbagai angkatan dan didukung oleh 12 dosen dari Departemen Biologi Laut dan Ekologi Universitas Mandala Waluya. Tim peneliti fokus mengembangkan konsorsium bakteri laut alami yang mampu mendegradasi limbah organik dan mengurangi kadar logam berat di perairan Teluk Kendari, yang diketahui mengalami penurunan kualitas air akibat aktivitas industri dan pertambangan.
Latar Belakang Penelitian yang Strategis
Pemilihan tema penelitian ini bukan tanpa alasan. Kendari, sebagai ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara, memiliki potensi maritim yang sangat besar namun menghadapi tantangan serius terkait pencemaran laut. Data dari Badan Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Tenggara menunjukkan peningkatan konsentrasi kadmium, timbal, dan merkuri di perairan Teluk Kendari selama lima tahun terakhir, melampaui standar baku mutu yang ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
“Kami memiliki tanggung jawab sebagai institusi pendidikan tinggi untuk berkontribusi nyata dalam pemecahan masalah lingkungan lokal. Teluk Kendari adalah laboratorium alami kami, dan penelitian ini adalah komitmen Universitas Mandala Waluya terhadap keberlanjutan ekosistem laut dan kesejahteraan masyarakat setempat,” ungkap Dr. Rahmat Hidayat, Dekan Fakultas Biologi Universitas Mandala Waluya, dalam wawancara eksklusif di ruang kerjanya pada Selasa, 3 April 2026.
Tambahnya, penelitian ini juga sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 14 tentang pelestarian kehidupan laut dan SDG 13 tentang aksi iklim, yang menjadi prioritas nasional dan global.
Metodologi Penelitian yang Komprehensif
Tim peneliti telah mengembangkan pendekatan multi-disiplin yang menggabungkan mikrobiologi, kimia lingkungan, dan bioteknologi. Fase pertama penelitian melibatkan identifikasi dan isolasi bakteri alami dari berbagai kedalaman laut Teluk Kendari. Sebanyak 127 strain bakteri telah berhasil diisolasi dan dikurasi dalam kultur murni di laboratorium Mikrobiologi Laut Fakultas Biologi.
“Kami melakukan sampling di 15 titik berbeda di Teluk Kendari dengan kedalaman bervariasi antara 5 hingga 50 meter. Setiap sampel air laut diproses dengan metode culture-dependent dan culture-independent untuk memastikan kami tidak melewatkan bakteri yang bermanfaat namun sulit dikultivasi,” jelas Prof. Dr. Siti Nurhaliza, Ketua Tim Penelitian, saat menunjukkan dokumentasi penelitian lapangan yang terorganisir dengan rapi.
Prof. Nurhaliza, yang telah melayani Universitas Mandala Waluya selama 18 tahun, menambahkan bahwa fase kedua penelitian berfokus pada uji kapasitas degradasi setiap strain bakteri terhadap berbagai jenis polutan organik dan anorganik. “Kami menggunakan metode spektrofotometri dan cromatografi untuk mengukur efisiensi degradasi. Beberapa strain menunjukkan kemampuan luar biasa, terutama dalam mendegradasi hidrokarbon dan menakumulasi logam berat,” katanya dengan antusias.
Mahasiswa Sebagai Tulang Punggung Inovasi
Peran mahasiswa dalam penelitian ini tidak sekadar mengikuti, melainkan menjadi motor penggerak utama. Dari 40 mahasiswa yang terlibat, 8 di antaranya adalah mahasiswa tingkat akhir (S1) yang mengembangkan skripsi mereka melalui penelitian ini, sementara 32 lainnya adalah mahasiswa yang mengikuti program magang penelitian intensif selama enam bulan.
Salah satu mahasiswa yang menonjol adalah Mega Pratama Wijaya, mahasiswa tingkat akhir Jurusan Biologi Laut, yang mengkhususkan diri pada karakterisasi genetik bakteri paling efektif yang ditemukan. “Awalnya saya hanya diminta membantu sampling, tapi ketika melihat potensi data yang kami kumpulkan, saya menjadi sangat tertarik. Sekarang saya sedang mengembangkan library gen dari 15 strain terbaik untuk memahami mekanisme degradasi di level molekuler,” ungkap Mega, 22 tahun, dengan mata bersinar penuh semangat.
Pengalaman Mega bukan pengecualian. Banyak mahasiswa lain melaporkan bahwa keterlibatan dalam penelitian ini telah mengubah perspektif mereka terhadap akademis. “Penelitian ini mengajarkan saya bahwa ilmu yang kami pelajari di kelas bukan sekadar teori abstrak, melainkan tools untuk mengatasi masalah nyata di masyarakat,” kata Sinta Rahmawati, mahasiswa tingkat dua yang aktif dalam uji degradasi limbah industri skala laboratorium.
Kolaborasi Lintas Departemen dan Eksternal
Kesuksesan penelitian ini juga didukung oleh kerjasama strategis dengan berbagai pihak. Departemen Kimia Laut dan Departemen Ekologi Laut di universitas yang sama menjadi mitra integral dalam validasi hasil. Selain itu, tim peneliti telah menjalin kerja sama dengan Balai Penelitian dan Observasi Laut (BPOL) Kendari untuk penggunaan fasilitas advanced analytical instruments, seperti Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry (ICP-MS) dan Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS).
“Kolaborasi dengan BPOL Kendari sangat penting karena memungkinkan kami untuk melakukan analisis dengan presisi tinggi yang tidak tersedia di laboratorium kampus. Ini adalah contoh nyata bagaimana universitas harus bersinergi dengan institusi penelitian pemerintah untuk menghasilkan penelitian berkualitas tinggi,” papar Dr. Bambang Sutrisno, Koordinator Kerjasama Eksternal Universitas Mandala Waluya.
Tidak hanya itu, tim peneliti juga telah memulai dialog awal dengan PT Sumber Daya Maritim Nusantara, perusahaan yang bergerak di bidang pengelolaan limbah industri maritim. Potensi commercialization dari teknologi bioremediasi ini sudah menarik perhatian sektor swasta, membuka kemungkinan aplikasi skala industri di masa depan.
Hasil Awal dan Temuan Signifikan
Meskipun penelitian masih dalam tahap berlangsung, beberapa hasil awal telah menunjukkan promise yang sangat menjanjikan. Data dari enam bulan pertama penelitian menunjukkan bahwa konsorsium bakteri yang dirancang dapat mengurangi kadar merkuri sebesar 68% dalam waktu 30 hari under controlled laboratory conditions. Untuk kontaminan organik seperti polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH), tingkat degradasi mencapai 74% dalam periode waktu yang sama.
“Angka-angka ini sangat signifikan. Dibandingkan dengan teknologi remediasi konvensional seperti activated carbon adsorption atau chemical oxidation yang memerlukan biaya operasional tinggi dan seringkali menghasilkan limbah sekunder, pendekatan bioremediasi kami jauh lebih cost-effective dan sustainable,” jelas Prof. Dr. Nurhaliza dengan bangga.
Salah satu strain bakteri yang paling efektif, yang diberi nama Bacillus maritimus KD-27 (nama lokal), menunjukkan kemampuan multipel dalam mendegradasi sekaligus mengabsorpsi berbagai jenis polutan. “Strain ini seperti ‘pemadam kebakaran universal’ untuk polusi laut. Kami sedang melakukan karakterisasi lebih mendalam terhadap mekanisme metabolisme dan gen yang bertanggung jawab atas kemampuan luar biasa ini,” tambah Mega Pratama dengan ekspresi peneliti sejati.
Rencana Fase Berikutnya dan Ekspansi
Tim peneliti telah merencanakan fase ketiga yang akan melibatkan uji coba pilot scale di area terbatas Teluk Kendari. Rencana ini telah mendapat dukungan resmi dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Tenggara, yang mengalokasikan dana tambahan sebesar Rp 500 juta untuk mendukung implementasi lapangan.
“Fase pilot ini akan kami lakukan di sekitar area pembuangan limbah industri ringan di Teluk Kendari, dengan lokasi yang telah dikontrol dan dimonitor secara ketat oleh BPOL. Jika terbukti efektif, kami akan mengajukan rekomendasi kepada pemerintah daerah untuk ekspansi ke area lain di Sulawesi Tenggara yang juga mengalami masalah serupa,” ungkap Dr. Hidayat.
Tim peneliti juga berencana untuk mempublikasikan hasil-hasil awal mereka di journal-journal internasional bereputasi seperti Marine Pollution Bulletin dan Applied Microbiology and Biotechnology. Beberapa manuscript sudah dalam tahap finalisasi dan diperkirakan akan disubmit dalam kuartal kedua 2026.
Dampak dan Proyeksi Jangka Panjang
Penelitian ini diproyeksikan memiliki dampak multi-dimensi. Di level akademik, penelitian ini memperkuat posisi Universitas Mandala Waluya sebagai institusi penelitian yang responsif terhadap kebutuhan lokal. Dr. Hidayat menuturkan bahwa hasil penelitian ini akan diintegrasikan ke dalam kurikulum Fakultas Biologi untuk memberikan pembelajaran berbasis research kepada mahasiswa generasi berikutnya.
“Kami ingin membangun research culture yang kuat di mana setiap mahasiswa sejak awal perkuliahan sudah terbiasa dengan metodologi penelitian dan pemecahan masalah praktis. Penelitian bioremediasi laut ini adalah contoh sempurna dari aplikasi ilmu dalam konteks sosial,” katanya.
Di level sosial dan lingkungan, kesuksesan penelitian ini diharapkan dapat memberikan solusi konkret bagi pencemaran Teluk Kendari, yang tidak hanya berdampak pada ekosistem tetapi juga pada kesehatan publik dan ekonomi lokal, khususnya bagi komunitas nelayan dan petani tambak yang bergantung pada kelestarian laut.
Proyeksi ekonomi jangka panjang juga menjanjikan. Jika teknologi ini dapat dikomersialisasi dengan baik, potensi bisnis bioremediasi laut di Indonesia sangat besar mengingat luasnya garis pantai dan intensitas aktivitas maritim yang terus meningkat.
Penutup
Penelitian Universitas Mandala Waluya tentang bioremediasi laut mewakili semangat baru dalam akademis Indonesia yang tidak sekadar menghasilkan publikasi, melainkan inovasi yang membawa perubahan nyata bagi lingkungan dan masyarakat. Kolaborasi harmonis antara dosen berpengalaman, mahasiswa berbakat, dan institusi eksternal menunjukkan model ideal bagaimana universitas harus beroperasi di era modern.
Dengan dedikasi tim yang luar biasa dan dukungan institusional yang solid, Universitas Mandala Waluya dan Fakultas Biologi-nya berpotensi menjadi pioneer dalam teknologi bioremediasi laut di kawasan Asia Tenggara. Penelitian ini adalah bukti bahwa solusi terhadap krisis lingkungan global dapat dimulai dari riset lokal yang detail, konsisten, dan purpose-driven.
Sebagaimana diungkapkan Prof. Nurhaliza dalam penutupan wawancara kami, “Kami percaya bahwa penelitian adalah ibadah, dan dalam kasus ini, kami ibadah untuk laut dan generasi mendatang.”
—
[Artikel ditulis oleh Tim Jurnalis Kampus, Universitas Mandala Waluya | Kendari, 3 April 2026]